Silahkan cari di sini

Daftar Isi

Kami selalu membuka kesempatan bagi penulis baru yang ingin mengembangkan ketertarikannya dalam dunia tulis menulis. Namun, kami juga sangat selektif dalam menerima naskah.
Kami hanya menjalin relasi dengan penulis yang benar-benar dapat dan ingin bekerja secara profesional.
Kami terbuka dalam menerima naskah, baik fiksi maupun non fiksi, sesuai dengan ketentuan dan syarat yang sudah kami tetapkan.
Jika kami tertarik dengan naskah Anda, kami akan segera menindak lanjuti melalui email dalam waktu 2 - 3 Minggu.
Kami sangat menghargai tulisan Anda .
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Salah satu Penerbit Online yang ada di Indonesia. Bertujuan menjembatani bagi penulis untuk mempublikasikan hasil karya Intelektual melalui media cetak berupa buku. Apakah Anda seorang penulis? dan kebingungan mencari penerbit untuk menerbitkan naskah Anda? Tidak Perlu Cemas. Kehadiran Kami adalah Solusi Terbaik Masalah Anda untuk mempublikasikan Hasil Karya Intelektual, untuk semua pembaca di seluruh Indonesia dan Dunia...!

Waktu yang Baik untuk Menulis

Minggu, 01 Mei 2011

Setiap orang diberi waktu yang sama setiap hari. 24 jam. Tidak kurang, tidak lebih. Namun tidak semua orang bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Termasuk kita yang menjadi seorang penulis, seringkali sulit sekali mendapatkan waktu luang untuk menulis. Terlebih kalau menulis bukan merupakan pekerjaan utama atau kita baru mengawali karir sebagai penulis. Kita seakan-akan selalu disibukkan oleh berbagai kegiatan sehari-hari yang harus dilakukan, sehingga rasanya 24 jam sehari masih kurang. Kenyataannya, dengan beberapa langkah sederhana, Anda dapat mendapatkan waktu yang berharga untuk menulis, betapapun sibuknya Anda.

1. Kurangi menonton TV.
Anda mungkin tidak sadar betapa banyak waktu yang Anda habiskan di depan "kotak ajaib" yang siap membius Anda selama 24 jam non-stop. Anda akan mendapatkan banyak waktu luang dengan hanya mengurangi menonton TV. Waktu luang itu dapat Anda gunakan untuk menulis. Jika Anda membutuhkan hiburan, alih-alih menonton TV, nyalakan musik dan membaca. Hal ini akan lebih menunjang karir Anda sebagai penulis.

2. Bawalah buku jurnal atau notebook Anda kemana saja.
Jika Anda bepergian, Anda akan menemukan waktu-waktu luang yang biasanya terbuang percuma. Menunggu seseorang, di dalam perjalanan, menunggu antrian dokter, menunggu jam sekolah dimulai, menunggu anak selesai sekolah, dll. Waktu terbuang ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Daripada Anda bengong di jalan, atau suntuk sambil membaca majalah bulukan di tengah mengantri, yang mungkin beritanya sendiri sudah usang, Anda mungkin sudah bisa menghasilkan beberapa lembar tulisan.

3. Manfaatkan waktu dengan efektif. Gosip, jalan-jalan di mall, atau hang out berlebihan mungkin akan menghabiskan banyak waktu Anda. Sebagai penulis, Anda membutuhkan interaksi dengan banyak orang. Namun kurangilah aktivitas yang hanya menghabiskan waktu Anda dan tidak menghasilkan apapun bagi karir Anda sebagai penulis.

4. Disiplin membagi waktu dengan meluangkan waktu tertentu untuk menulis.
Misalnya di pagi hari, atau di malam hari, atau waktu apa saja yang Anda sukai. Konsekuensinya Anda harus berusaha agar Anda tidak terganggu oleh aktivitas lain di waktu menulis tersebut. Jika Anda mengalokasikan waktu di pagi hari, tuntaskan segala tugas Anda di malam sebelumnya. Persiapkan sarapan, pakaian untuk memulai hari dll di malam sebelum Anda tidur, sehingga sewaktu Anda bangun, Anda bisa berkonsentrasi sepenuhnya di pagi yang singkat untuk menulis.

Setelah Anda membaca artikel di atas, Anda tentunya akan dapat menerapkan tips sederhana di atas. Yang diperlukan hanya kemauan untuk melakukannya.


Oleh Didik Wijaya
Copyright by Penerbit Buku Fajar Satria

Baca Selengkapnya...

Tahapan untuk Menulis

Apabila saat ini Anda ingin memulai pekerjaan sebagai penulis, Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana cara menulis dengan baik, efisien dan efektif. Ada banyak cara yang dapat digunakan seorang untuk bisa menulis. Setiap orang berbeda-beda. Namun pada prinsipnya dapat dibagi dalam 5 tahap kegiatan. Anda dapat mengikuti tahapan-tahapan ini, yang dapat berlaku untuk penulisan fiksi ataupun non-fiksi.

1. Tahap pertama adalah menentukan tema atau topik atau ide utama yang akan Anda tulis.
Anda sebaiknya menulis dalam bidang yang Anda kuasai. Alternatif lain adalah Anda dapat menulis bidang yang Anda kuasai. Jika sedang menulis fiksi Anda dapat menulis genre yang Anda sukai. Keuntungan apabila Anda menulis hal yang Anda sukai, Anda akan lebih enjoy dan lebih serius dalam menulis naskah tersebut. Sebenarnya Anda tidak dilarang untuk menulis di luar bidang yang Anda kuasai, tetapi Anda akan jauh lebih mudah menulis bidang yang Anda kuasai, dan pada akhirnya buku Anda akan jauh lebih cepat terbitnya. Baca juga artikel Mencari Ide, yang akan membantu Anda untuk mencari ide utama tulisan Anda.

2. Tahap kedua adalah melakukan riset.
Lakukanlah semua hal yang diperlukan untuk mendapatkan data yang Anda inginkan, dengan membaca, mencatat, observasi, mengkliping. Kumpulkan semua data dalam satu tempat. Sebaiknya Anda menggunakan jurnal. Organisasikan dengan rapi, agar dapat mudah dicari apabila diperlukan. Anda harus memasikan bahwa data yang Anda miliki valid dan akurat, sehingga apa yang Anda tulis dapat dipertanggung jawabkan. Apabila Anda menulis novel, dengan setting dan karakter yang sudah Anda riset, Anda memiliki karakter yang seakan-akan nyata.

3. Tahap ketiga adalah membuat kerangka atau outline dengan memilih topik atau ide mana yang akan Anda gunakan.
Beberapa penulis fiksi melewatkan tahap ini, atau cukup dengan membuat kerangka di luar kepala, mereka langsung menulis apa yang ada di kepalanya. Namun tidak semua orang bisa menulis dengan cara ini. Sebaiknya Anda tetap membuat kerangka atau outline ini supaya tulisan atau cerita Anda memiliki konsistensi dan alur yang baik. Anda akan dengan mudah melihat alur tulisan dengan hanya membaca kerangka.

4. Tahap keempat, tentu saja Anda harus menulis.
Carilah waktu untuk menulis. Kadang Anda akan banyak mengalami hambatan untuk menulis. Anda harus mengatasi hambatan ini, sehingga tulisan Anda selesai dalam waktu yang sudah ditentukan.

5. Tahap terakhir adalah membaca kembali tulisan Anda.
Jangan langsung mengirimkannya ke penerbit. Simpan terlebih dahulu beberapa waktu dan baca kembali. Anda akan terkejut sewaktu membaca sediri tulisan Anda. Revisi kembali apabila terdapat kesalahan, termasuk kesalahan ketik,gramatika, tata bahasa. Jangan segan untuk menulis ulang dengan ide baru yang lebih segar. Pastikan bahwa yang Anda kirimkan adalah yang terbaik, karena Anda akan dinilai berdasar pada apa yang Anda kirimkan.



Oleh Didik Wijaya
Copyright by Penerbit Buku Fajar Satria

Baca Selengkapnya...

Sumber Ide Menulis

Situasi paling mengerikan yang dialami oleh penulis adalah saat kepalanya kosong, blank, tidak memiliki ide tentang apa yang hendak ditulis. Mata nanar menatap halaman kertas atau layar komputer yang putih polos. Ide yang diharapkan tidak pernah mampir. Padahal sebenarnya ada banyak sumber-sumber ide yang tersedia di sekeliling Anda. Mungkin Anda hanya tidak menyadarinya dan melewatinya. Nah, di dalam tulisan ini ada beberapa sumber-sumber tempat mencari ide untuk tulisan Anda.

1. Buku, majalah dan media cetak lainnya
Buka perpustakaan pribadi Anda, cari buku yang menarik perhatian Anda dan baca. Ambil majalah, perhatikan setiap artikel. Pikirkan apa yang bisa Anda buat dari materi yang Anda baca itu. Cerita, puisi, artikel yang ada di sana bisa menginspirasi Anda

2. Obrolan
Rumpian, obrolan ringan atau kumpul-kumpul sesama teman arisan atau saudara bisa menjadi sumber ide yang dahsyat. Cuma jangan terlalu terbawa suasana, saking asyiknya ngerumpi, akhirnya Anda malah lupa tujuan semula

3. Bepergian
Keluarlah dari rumah Anda sementara waktu. Tidak perlu jauh-jauh. Kalau Anda punya uang dan bisa bepergian ke berbagai tempat yang eksotis itu lebih baik. Kalaupun tidak bisa cukup di dalam kota Anda. Cuma sekarang, gunakan cara bepergian yang lain. Kalau biasanya Anda naik mobil pribadi, kali ini cobalah naik angkutan umum. Sebisa mungkin jangan pergi ke mal, pergilah ke pasar seni, galeri, museum, dll. Perhatikan keunikan orang-orang di sekitar Anda. Anda akan menemukan ide tersebar di mana-mana.

4. Komunitas
Jika Anda ingin menulis di satu bidang tertentu, cara terbaik adalah bergabung dengan komunitas yang menekuni bidang tersebut. Dari diskusi antar sesama anggota komunitas akan terungkap problem, permasalahan dan solusi yang ingin dicapai. Hal tersebut bisa diangkat menjadi ide.

5. Mimpi
Tidak semua orang bermimpi waktu tidur. Tetapi bila Anda bermimpi apapun, kemungkinan isi mimpi itu bisa menjadi ide cerita Anda ketimbang Anda repot ke dukun mencari tafsirnya.

6. Diary atau jurnal
Bersyukurlah kalau dulu Anda rajin menulis diari atau jurnal. Buka kembali lembaran diari tersebut, baca kembali dan cari hal yang bisa menjadi ide tulisan.

7. Film
Beli atau pinjam film di rental. Cari film yang unik yang biasanya jarang Anda tonton. Pertimbangkan untuk menonton film yang menang di berbagai kompetisi. Tonton berkali-kali dan pikirkan apa yang bisa Anda buat dari film yang Anda tonton itu.

8. Televisi
Yang dimaksud televisi di sini, bukan tayangan televisi swasta di Indonesia yang amburadul, yang sinetronnya kalau nggak melotot dan teriak-teriak nggak puas. Tapi berbahagialah kalau televisi kabel masuk ke rumah Anda (bukan promosi), tapi di sana Anda bisa menonton Discovery Channel, atau National Geographic Channel. Mereka bisa menjadi sumber informasi bagi Anda.

9. Musik
Buka sampul kaset atau CD punya Anda, baca liriknya, resapi sambil mendengarkan lagunya. Lirik suatu lagu bisa menjadi inspirasi sebuah cerita

10. Internet
Internet adalah sumber informasi yang tidak ada habisnya. Luangkan waktu untuk mencari berbagai informasi di internet, usahakan saja supaya tidak tersesat.

Sebenarnya ide ada dimana-mana. Ide yang muncul saat Anda termenung, atau jongkok di kamar mandi (kok bisa ya:) sebenarnya muncul dari bawah sadar Anda, yang muncul dari akumulasi dari apa saja yang Anda lihat, rasakan sehari-hari. Buat kebanyakan orang, ide tidak datang dari langit. Maka dari itu, mendekatlah kepada sumber-sumber ide yang sudah disebutkan di atas.


oleh Didik Wijaya
Copyright by Penerbit Buku Fajar Satria

Baca Selengkapnya...

Mencari Ide untuk Menulis

Banyak cara yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan ide. Ada yang jongkok berlama-lama di kamar mandi sambil merokok sampai mendapatkan ide cemerlang. Ada yang pergi jauh-jauh ke desa terpencil untuk menyepi. Ada yang melamun, sambil menatap kertas putih di hadapannya atau halaman putih di layar komputer sambil jarinya mengetuk-ngetuk menja. Tidak ada yang salah dengan semua cara itu. Semua orang punya cara unik untuk mendapatkan ide.

Semua cara di atas punya kesamaan. Kita menunggu sampai ide itu datang. Kalau cepat datang sih ok. Tetapi kalau kereta idenya mogok entah dimana, proses menunggu ini bisa sangat lama. Tentunya Anda tidak akan segera berproduksi. Padahal di sekitar Anda bertebaran ide-ide. Anda mungkin melewatkannya.

Sempatkan diri Anda untuk membaca lebih banyak. Sediakan waktu khusus untuk membaca, sedikitnya 30 menit sehari. Baca apa saja. Majalah, koran, buku, novel, roman, sastra. Apa saja yang menarik perhatian Anda. Semua yang Anda baca bisa menjadi ide.

Berjalan-jalanlah. Perhatikan lingkungan Anda. Kegiatan sepele seperti berjalan-jalan bisa mendatangkan ide.

Tunggu ! Mungkin Anda protes, "Saya sudah membaca ratusan buku, majalah, koran, apa saja yang bisa saya bisa. Bahkan kertas bungkus gorengan pun saya buka dan saya baca. Saya juga sudah melanglang buana kemana saja. Tidak ada sejengkal tanahpun yang belum saya injak-injak. Tetapi kenapa saya tetap sulit mendapatkan ide?"

Jawabannya sederhana saja, "Anda hanya melewatkannya." Kita hidup di jaman informasi. Lebih mudah penulis sekarang untuk mendapatkan informasi daripada penulis jaman dulu. Suratkabar, TV, dan apalagi sekarang sudah ada internet. Transportasi lebih mudah. Mau ke belahan dunia bisa naik pesawat terbang. Dulu cuma ada kapal laut. Problemnya adalah kita melewatkan informasi begitu saja. Ini adalah fenomena baru di dunia informasi. Kita cenderung membaca dengan cepat suatu headline demi headline. Jari-jari jemari kita dengan mudah mengganti channel TV. Akibatnya kita memperlakukan otak kita seperti tong sampah. Semua informasi masuk dan terbuang dengan cepat. Kita cukup bahagia dengan hanya sebatas mengetahui informasi.

Untuk mendapatkan ide dari semua yang Anda lihat atau dengarkan, Anda harus mengubah cara Anda memperlakukan informasi. Pada saat Anda membaca sesuatu. Berhenti. Benar-benar berhenti. Kemudian pikirkan apa saja yang bisa Anda lakukan dengan informasi itu. Imajinasikan. Biarkan pikiran liar Anda berkelana. Saat Anda membaca koran, ada ulasan tentang penyakit flu burung. Dari koran tersebut, Anda mengetahui bahwa virus tersebut tidak menular dari unggas kepada manusia secara langsung. Jika Anda berpindah ke berita lain, maka berita itu hanya menjadi berita.

Bagaimana jika Anda berhenti, dan kemudian menggunakan formula sakti "WHAT IF...."

Bagaimana jika penyakit tersebut menular dari unggas kepada manusia? Bagaimana jika muncul virus strain baru yang lebih berbahaya? Bagaimana jika virus itu sebetulnya telah menjangkiti suatu keluarga di suatu desa terpencil? Bagaimana jika kemudian ada pendatang yang kemudian tertular? Bagaimana jika pemerintah dan masyarakat panik dan menuduh keluarga itu memiliki virus menular yang perlu di basmi? Bagaimana Anda membayangkan ketakutan keluarga itu? Bagaimana jika anak keluarga itu memiliki teman yang kemudian dipisahkan paksa karena takut tertular? Bagaimana perjuangan ayah keluarga itu untuk melindungi anggota keluarganya? Dan seterusnya Anda bisa melanjutkan sendiri.

Semuanya hanya dari satu berita. Anda hanya perlu berhenti dan memikirkan apa saja yang bisa Anda lakukan dengan apa saja yang Anda lihat dan dengar. Anda tidak mau otak Anda menjadi tong sampah saja kan?

Oleh Didik Wijaya
Copyright by Penerbit Buku Fajar Satria
Baca Selengkapnya...